Pendidikan yang Membebaskan: Antara Cita dan Realitas di Sekolah Kita
Oleh: Rahman Arifin
Di tengah derasnya perubahan kurikulum dan istilah yang
silih berganti—dari KKM menjadi KKTP, dari kurikulum 2013 menjadi Kurikulum
Merdeka—ada kegelisahan yang terus mengendap di hati para guru: Apakah
pendidikan kita sungguh memerdekakan anak, atau sekadar mengganti baju sistem
lama dengan istilah baru yang lebih indah?
Saya berkeyakinan bahwa pendidikan sejati tidak boleh
memaksa anak mencapai standar yang sama. Setiap anak memiliki bakat, minat, dan
ritme tumbuh yang berbeda. Ada yang cepat memahami konsep abstrak, ada yang
gemilang dalam seni, ada yang tangguh dalam keterampilan tangan, dan ada yang
luar biasa dalam empati sosial. Semua itu bagian dari anugerah Tuhan yang tidak
bisa diseragamkan oleh angka.
Namun, realitas di lapangan berkata lain. Sekolah masih
menjadi tempat perlombaan nilai, bukan ruang pertumbuhan makna. Guru dan siswa
sama-sama dikejar target: menyelesaikan semua materi, memenuhi administrasi,
dan memastikan nilai-nilai di Dapodik tampak “bagus”. Akibatnya, guru
kehilangan waktu untuk mendidik dengan hati, sementara anak kehilangan
kesempatan untuk belajar sesuai jiwanya.
Kurikulum kita masih terlalu padat. Materi datang silih
berganti, tanpa ruang bagi anak untuk menekuni apa yang benar-benar menarik
hatinya. Akhirnya, pembelajaran berubah menjadi ritual mengejar halaman dan
ulangan, bukan perjalanan menemukan makna. Guru dan siswa seperti dua pelari
maraton yang sama-sama kelelahan, tapi tidak tahu garis finisnya di mana.
Yang paling menyedihkan, keberhasilan sekolah sering diukur
dari angka. Budaya kita masih terjebak pada paradigma “harus terlihat
berhasil”. Sekolah berusaha menampilkan citra unggul di atas kertas—nilai
rata-rata tinggi, akreditasi A, prestasi siswa berderet. Padahal di balik semua
itu, banyak anak yang kehilangan kesempatan untuk menjadi dirinya sendiri. Kita
terlalu sibuk menilai, hingga lupa untuk memahami.
Bagi saya, pendidikan seharusnya membebaskan, bukan
menghukum. Tugas guru bukan menentukan nasib anak lewat angka, melainkan
menuntun mereka menemukan jalan hidupnya. Guru adalah fasilitator yang
menyalakan rasa ingin tahu, bukan penentu nilai akhir. Anak-anak tidak perlu
dipaksa menyukai semua mata pelajaran, cukup diberi kesempatan untuk menekuni
yang membuat mereka berbinar. Sebab, ketika anak belajar dengan cinta, maka
kedalaman akan muncul dengan sendirinya.
Pendidikan yang membebaskan tidak berarti tanpa arah. Ia
justru memberi ruang bagi pertumbuhan yang sejati—ruang bagi anak untuk
mencoba, gagal, bangkit, dan menemukan panggilan hidupnya sendiri. Itulah inti
dari merdeka belajar: bukan hanya merdeka dari ujian, tapi merdeka untuk
menjadi manusia seutuhnya.
Selama pendidikan masih mengejar angka, kita hanya mencetak
kepatuhan.
Namun, ketika pendidikan mulai mengejar makna, barulah kita melahirkan kemanusiaan. (Raf 112025)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar