Selasa, 11 November 2025

Pendidikan yang Membebaskan: Antara Cita dan Realitas di Sekolah Kita

Pendidikan yang Membebaskan: Antara Cita dan Realitas di Sekolah Kita




Oleh: Rahman Arifin

Di tengah derasnya perubahan kurikulum dan istilah yang silih berganti—dari KKM menjadi KKTP, dari kurikulum 2013 menjadi Kurikulum Merdeka—ada kegelisahan yang terus mengendap di hati para guru: Apakah pendidikan kita sungguh memerdekakan anak, atau sekadar mengganti baju sistem lama dengan istilah baru yang lebih indah?

Saya berkeyakinan bahwa pendidikan sejati tidak boleh memaksa anak mencapai standar yang sama. Setiap anak memiliki bakat, minat, dan ritme tumbuh yang berbeda. Ada yang cepat memahami konsep abstrak, ada yang gemilang dalam seni, ada yang tangguh dalam keterampilan tangan, dan ada yang luar biasa dalam empati sosial. Semua itu bagian dari anugerah Tuhan yang tidak bisa diseragamkan oleh angka.

Namun, realitas di lapangan berkata lain. Sekolah masih menjadi tempat perlombaan nilai, bukan ruang pertumbuhan makna. Guru dan siswa sama-sama dikejar target: menyelesaikan semua materi, memenuhi administrasi, dan memastikan nilai-nilai di Dapodik tampak “bagus”. Akibatnya, guru kehilangan waktu untuk mendidik dengan hati, sementara anak kehilangan kesempatan untuk belajar sesuai jiwanya.

Kurikulum kita masih terlalu padat. Materi datang silih berganti, tanpa ruang bagi anak untuk menekuni apa yang benar-benar menarik hatinya. Akhirnya, pembelajaran berubah menjadi ritual mengejar halaman dan ulangan, bukan perjalanan menemukan makna. Guru dan siswa seperti dua pelari maraton yang sama-sama kelelahan, tapi tidak tahu garis finisnya di mana.

Yang paling menyedihkan, keberhasilan sekolah sering diukur dari angka. Budaya kita masih terjebak pada paradigma “harus terlihat berhasil”. Sekolah berusaha menampilkan citra unggul di atas kertas—nilai rata-rata tinggi, akreditasi A, prestasi siswa berderet. Padahal di balik semua itu, banyak anak yang kehilangan kesempatan untuk menjadi dirinya sendiri. Kita terlalu sibuk menilai, hingga lupa untuk memahami.

Bagi saya, pendidikan seharusnya membebaskan, bukan menghukum. Tugas guru bukan menentukan nasib anak lewat angka, melainkan menuntun mereka menemukan jalan hidupnya. Guru adalah fasilitator yang menyalakan rasa ingin tahu, bukan penentu nilai akhir. Anak-anak tidak perlu dipaksa menyukai semua mata pelajaran, cukup diberi kesempatan untuk menekuni yang membuat mereka berbinar. Sebab, ketika anak belajar dengan cinta, maka kedalaman akan muncul dengan sendirinya.

Pendidikan yang membebaskan tidak berarti tanpa arah. Ia justru memberi ruang bagi pertumbuhan yang sejati—ruang bagi anak untuk mencoba, gagal, bangkit, dan menemukan panggilan hidupnya sendiri. Itulah inti dari merdeka belajar: bukan hanya merdeka dari ujian, tapi merdeka untuk menjadi manusia seutuhnya.

Selama pendidikan masih mengejar angka, kita hanya mencetak kepatuhan.

Namun, ketika pendidikan mulai mengejar makna, barulah kita melahirkan kemanusiaan. (Raf 112025)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Kampus Daerah UPI dan Ikhtiar Menutup Ketimpangan PTN di Jawa Barat

Kampus Daerah UPI dan Ikhtiar Menutup Ketimpangan PTN di Jawa Barat Ketimpangan pendidikan tinggi negeri (PTN) di Pulau Jawa bukan sekada...