Semuanya tertunduk lesu dan tak ada yang berani untuk menengadahkan wajah
wajah yang lesu suram dan seolah tiada pengharapan
mata menerawang jauh menembus sampai ke dalam tanah
tatapan yang kosong
karena segerombolan semut yang antri dihadapannya ia abaikan
tak bergerak sedikitpun
Tak selangkah kakipun
ia ragu harus kemanakah langkah terayun
tak ada setitikpun terang dalam benaknya
ooo
alangkah malangnya dirinya
begitu yang selalu ia pikirkan
gemericik air di pancuran
riak air di permukaan kolam
sepoi angin yang menyapa daun daun padi yang menghasilkan irama begitu damai
baginya sungguh tiada berarti
hendak kemanakah langkah diayun
sampai kini belum juga dia putuskan
Kamis, 17 Februari 2011
Rabu, 16 Februari 2011
Menantimu di Ujung Jalan
Duhai Ayahanda
lelah sudah Ananda berjalan
menelusuri lorong jalan dan padang
hanya berbekal tongkat dan catatan
Ananda tak ingin menjadi sampah kehidupan
meski tadi dijalan Ananda telah disampahkan
melihat dunia ini wahai Ayahanda
semakin miris perih dan tergores
menjadikan luka-luka itu menganga kembali
Ayahanda
tak ingin Ananda terbawa bersama
arus yang kian kuat menggoda
tak ada teman yang bisa saling menguatkan
cuma Ayahanda seorang
Ayahanda
mentari tinggal sesenti menampakkan di bumi
tetapi manusia begitu bersuka cita
bergelimang dosa maksiat
tak peduli halal dan haram
yang penting mereka bisa bersuka cita dan bergaya
berbahagia dalam fatamorgana
Ayahanda
bolehkah Ananda berkata
Ananda letih?
ah rupanya itu tak sepadan dengan perjuangan
para nabi dan orang-orang sholeh
yang kadang mereka seperti asing di dunia
tapi mereka tetap penuh semangat untuk tetap
memegang panji kebenaran
meskipun semua orang berkata
tidak!
lelah sudah Ananda berjalan
menelusuri lorong jalan dan padang
hanya berbekal tongkat dan catatan
Ananda tak ingin menjadi sampah kehidupan
meski tadi dijalan Ananda telah disampahkan
melihat dunia ini wahai Ayahanda
semakin miris perih dan tergores
menjadikan luka-luka itu menganga kembali
Ayahanda
tak ingin Ananda terbawa bersama
arus yang kian kuat menggoda
tak ada teman yang bisa saling menguatkan
cuma Ayahanda seorang
Ayahanda
mentari tinggal sesenti menampakkan di bumi
tetapi manusia begitu bersuka cita
bergelimang dosa maksiat
tak peduli halal dan haram
yang penting mereka bisa bersuka cita dan bergaya
berbahagia dalam fatamorgana
Ayahanda
bolehkah Ananda berkata
Ananda letih?
ah rupanya itu tak sepadan dengan perjuangan
para nabi dan orang-orang sholeh
yang kadang mereka seperti asing di dunia
tapi mereka tetap penuh semangat untuk tetap
memegang panji kebenaran
meskipun semua orang berkata
tidak!
Kala Purnama Bercahaya
Bulan
Sudah lama aku tak berjumpa denganmu
diantara dinginnya malam
aku selalu mengharap senyummu muncul di tingkapku
kubuka dan kubuka
tapi engkau tak muncul jua
Wajahmu yang bersinar
memberi asa cita dan cinta
rindu dendam di hati
terwakili pada senyummu yang merona keemasan
Bulan
dikesendirianmu
didinginnya malam
ada aku yang selalu memandangmu
Sudah lama aku tak berjumpa denganmu
diantara dinginnya malam
aku selalu mengharap senyummu muncul di tingkapku
kubuka dan kubuka
tapi engkau tak muncul jua
Wajahmu yang bersinar
memberi asa cita dan cinta
rindu dendam di hati
terwakili pada senyummu yang merona keemasan
Bulan
dikesendirianmu
didinginnya malam
ada aku yang selalu memandangmu
Kuningan 16 Februari 2011
Langganan:
Komentar (Atom)
Kampus Daerah UPI dan Ikhtiar Menutup Ketimpangan PTN di Jawa Barat
Kampus Daerah UPI dan Ikhtiar Menutup Ketimpangan PTN di Jawa Barat Ketimpangan pendidikan tinggi negeri (PTN) di Pulau Jawa bukan sekada...
-
Pembelajaran Mendalam: Antara Idealisme Kurikulum dan Realita Kelas Oleh: Rahman Arifin “ Kurikulum boleh berganti, tetapi makna be...
-
Pendidikan yang Membebaskan: Antara Cita dan Realitas di Sekolah Kita Oleh: Rahman Arifin Di tengah derasnya perubahan kurikulum dan...
-
Linggarjati atau Linggajati: Antara Nama yang Salah Kaprah dan Sejarah yang Terlanjur Melekat Banyak orang mengenal “Perundingan Linggarja...