Jumat, 02 Januari 2026

Saatnya FKIP Berubah Menjadi Fakultas Ilmu Pendidikan


 


Saatnya FKIP Berubah Menjadi Fakultas Ilmu Pendidikan

Oleh: Rahman Arifin


Selama puluhan tahun, pendidikan tinggi Indonesia mewarisi satu anomali struktural yang jarang dipertanyakan secara serius: Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) yang terlalu gemuk dan menampung hampir semua program studi pendidikan, tanpa memperhatikan rumpun keilmuannya. Anomali ini tidak lahir dari desain akademik yang matang, melainkan dari sejarah panjang transformasi IKIP menjadi universitas umum.

Di banyak universitas umum, FKIP berisi program studi Pendidikan Bahasa, Pendidikan Sains, Pendidikan Teknik, Pendidikan Ekonomi, hingga Pendidikan Olahraga. Akibatnya, FKIP berubah menjadi “super fakultas” yang memikul beban akademik, administratif, dan identitas yang terlalu besar—sering kali tidak sehat bagi pengembangan ilmu itu sendiri.

Padahal, pendidikan bukan disiplin yang berdiri sendirian tanpa akar keilmuan, melainkan perspektif dan praksis yang justru harus bertumpu pada kedalaman ilmu induknya.


Ketika Ilmu Terlepas dari Induknya

Mari bandingkan dua model yang kini hidup berdampingan di Indonesia. Di sebagian universitas eks-IKIP, program studi Teknik Mesin dan Pendidikan Teknik Mesin berada dalam satu Fakultas Teknik. Sementara di universitas umum lain, Teknik Mesin berada di Fakultas Teknik, tetapi Pendidikan Teknik Mesin dipisahkan ke FKIP.

Secara akademik, situasi ini problematik. Ilmu yang sama dipisahkan hanya karena label “pendidikan”, bukan karena perbedaan ontologis atau epistemologis. Dosen pendidikan teknik akhirnya jauh dari perkembangan mutakhir teknik itu sendiri, sementara mahasiswa calon guru kehilangan kesempatan tumbuh dalam ekosistem keilmuan yang hidup.

Fenomena ini terjadi di hampir semua rumpun: bahasa, sains, ekonomi, bahkan seni. FKIP menjadi tempat parkir program studi pendidikan, bukan ruang pembinaan pedagogik yang mendalam.


Pendidikan Bukan Tempat, Tapi Perspektif

Sudah saatnya kita membalik logika lama. Pendidikan bukan “rumah” yang harus menampung semua disiplin, melainkan sudut pandang yang memperkaya setiap disiplin.

Di banyak universitas unggulan dunia, calon guru matematika tumbuh di fakultas matematika, calon guru bahasa berada di fakultas bahasa, dan calon guru sains bernaung di fakultas sains. Aspek pedagogik, kurikulum, dan evaluasi tidak dihilangkan, tetapi dikelola secara terpusat melalui school of education atau fakultas ilmu pendidikan yang kuat secara konseptual.

Model ini justru menghasilkan guru dengan dua kekuatan sekaligus: kedalaman keilmuan dan kecakapan pedagogik.


Transformasi FKIP: Dari Gemuk ke Fokus

Karena itu, solusi yang paling rasional bukan menghapus FKIP, melainkan mentransformasikannya menjadi Fakultas Ilmu Pendidikan (FIP).

FIP seharusnya diisi oleh program studi yang benar-benar mengembangkan ilmu pendidikan, seperti:

  • Ilmu Pendidikan
  • Kurikulum dan Pembelajaran
  • Evaluasi Pendidikan
  • Psikologi Pendidikan
  • Teknologi Pendidikan
  • Manajemen Pendidikan
  • Pendidikan Khusus

Sementara program studi pendidikan berbasis disiplin—Pendidikan Bahasa Inggris, Pendidikan Fisika, Pendidikan Teknik Mesin, dan sejenisnya—dikembalikan ke fakultas rumpun keilmuannya masing-masing.

Dengan demikian, pendidikan guru tidak terisolasi, dan FIP dapat berfungsi sebagai think tank pedagogik universitas, bukan sekadar fakultas administratif.


Menyatukan Mutu, Menata Sistem

Penataan ini membawa banyak manfaat: fakultas menjadi lebih proporsional, kurikulum lebih relevan dengan perkembangan ilmu, dan calon guru dibentuk dalam lingkungan akademik yang hidup. Lebih jauh, standarisasi struktur ini akan mengurangi kebingungan nasional, memperkuat akreditasi, dan memudahkan mobilitas dosen serta mahasiswa.

Yang terpenting, reformasi ini tidak menghilangkan mandat LPTK, tetapi justru menyelamatkannya dari stagnasi struktural.


Saatnya Negara Hadir dengan Desain

Selama ini, regulasi pendidikan tinggi terlalu fokus pada program studi, tetapi abai terhadap arsitektur fakultas. Akibatnya, setiap universitas berjalan dengan logika sejarahnya sendiri. Sudah waktunya negara hadir bukan untuk menyeragamkan secara kaku, tetapi memberi arah desain yang adil dan rasional.

FKIP yang gemuk adalah warisan masa lalu.
Fakultas Ilmu Pendidikan yang fokus adalah kebutuhan masa depan.

Jika kita serius ingin membangun kualitas guru dan pendidikan nasional, maka pembenahan struktur harus dimulai dari hulu—dari cara kita menempatkan ilmu dan pendidikan pada tempat yang semestinya.



Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Kampus Daerah UPI dan Ikhtiar Menutup Ketimpangan PTN di Jawa Barat

Kampus Daerah UPI dan Ikhtiar Menutup Ketimpangan PTN di Jawa Barat Ketimpangan pendidikan tinggi negeri (PTN) di Pulau Jawa bukan sekada...