Semuanya tertunduk lesu dan tak ada yang berani untuk menengadahkan wajah
wajah yang lesu suram dan seolah tiada pengharapan
mata menerawang jauh menembus sampai ke dalam tanah
tatapan yang kosong
karena segerombolan semut yang antri dihadapannya ia abaikan
tak bergerak sedikitpun
Tak selangkah kakipun
ia ragu harus kemanakah langkah terayun
tak ada setitikpun terang dalam benaknya
ooo
alangkah malangnya dirinya
begitu yang selalu ia pikirkan
gemericik air di pancuran
riak air di permukaan kolam
sepoi angin yang menyapa daun daun padi yang menghasilkan irama begitu damai
baginya sungguh tiada berarti
hendak kemanakah langkah diayun
sampai kini belum juga dia putuskan
Kamis, 17 Februari 2011
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Kampus Daerah UPI dan Ikhtiar Menutup Ketimpangan PTN di Jawa Barat
Kampus Daerah UPI dan Ikhtiar Menutup Ketimpangan PTN di Jawa Barat Ketimpangan pendidikan tinggi negeri (PTN) di Pulau Jawa bukan sekada...
-
Pembelajaran Mendalam: Antara Idealisme Kurikulum dan Realita Kelas Oleh: Rahman Arifin “ Kurikulum boleh berganti, tetapi makna be...
-
Pendidikan yang Membebaskan: Antara Cita dan Realitas di Sekolah Kita Oleh: Rahman Arifin Di tengah derasnya perubahan kurikulum dan...
-
Linggarjati atau Linggajati: Antara Nama yang Salah Kaprah dan Sejarah yang Terlanjur Melekat Banyak orang mengenal “Perundingan Linggarja...
Tidak ada komentar:
Posting Komentar