Duhai Ayahanda
lelah sudah Ananda berjalan
menelusuri lorong jalan dan padang
hanya berbekal tongkat dan catatan
Ananda tak ingin menjadi sampah kehidupan
meski tadi dijalan Ananda telah disampahkan
melihat dunia ini wahai Ayahanda
semakin miris perih dan tergores
menjadikan luka-luka itu menganga kembali
Ayahanda
tak ingin Ananda terbawa bersama
arus yang kian kuat menggoda
tak ada teman yang bisa saling menguatkan
cuma Ayahanda seorang
Ayahanda
mentari tinggal sesenti menampakkan di bumi
tetapi manusia begitu bersuka cita
bergelimang dosa maksiat
tak peduli halal dan haram
yang penting mereka bisa bersuka cita dan bergaya
berbahagia dalam fatamorgana
Ayahanda
bolehkah Ananda berkata
Ananda letih?
ah rupanya itu tak sepadan dengan perjuangan
para nabi dan orang-orang sholeh
yang kadang mereka seperti asing di dunia
tapi mereka tetap penuh semangat untuk tetap
memegang panji kebenaran
meskipun semua orang berkata
tidak!
Rabu, 16 Februari 2011
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Kampus Daerah UPI dan Ikhtiar Menutup Ketimpangan PTN di Jawa Barat
Kampus Daerah UPI dan Ikhtiar Menutup Ketimpangan PTN di Jawa Barat Ketimpangan pendidikan tinggi negeri (PTN) di Pulau Jawa bukan sekada...
-
Pembelajaran Mendalam: Antara Idealisme Kurikulum dan Realita Kelas Oleh: Rahman Arifin “ Kurikulum boleh berganti, tetapi makna be...
-
Pendidikan yang Membebaskan: Antara Cita dan Realitas di Sekolah Kita Oleh: Rahman Arifin Di tengah derasnya perubahan kurikulum dan...
-
Linggarjati atau Linggajati: Antara Nama yang Salah Kaprah dan Sejarah yang Terlanjur Melekat Banyak orang mengenal “Perundingan Linggarja...
Tidak ada komentar:
Posting Komentar